Tenganan: Desa Tradisional Unik Di Timur Bali!

2 min read

Tenganan Pegringsingan

Bali Trilogy – Kamu suka travel ke obyek wisata sambil belajar adat istiadat peninggalan leluhur? Ada baiknya kamu pergi mengunjungi Desa Tenganan di Bali. Karena bersama dengan Desa Trunyan dan Desa Sembiran, Desa Tenganan termasuk kategori Bali Aga.

Apa sih maksud dari Bali Aga?

Suku Bali Aga itu merupakan desa yang berada di pulau Bali dimana masyarakatnya masih memegang teguh peraturan serta adat istiadat peninggalan leluhur mereka sejak jaman sebelum kerajaan Majapahit. Semua arsitektur pura, balai pertemuan, bahkan rumah dibangun dengan memperhatikan aturan adat istiadat itu. Ciri-cirinya antara lain dibangun dari campuran batu sungai, tanah, serta batu merah. Selain itu semua bangunan dibangun dengan ukuran yang hampir sama.

Tenganan
Pintu masuk desa Tenganan

Desa Tenganan

Kenapa mesti mengunjungi Desa Tenganan? Salah satu alasannya adalah kerajinan khas penduduk desanya yang tidak bisa kamu temukan di tempat lain. Seperti ukiran, lukisan di daun lontar, anyaman bambu, dan juga kain tenun. Alasan lainnya adalah bangunan-bangunannya yang masih asli tradisional dan acara perang pandan yang rutin digelar.

Tenganan Pegringsingan

Desa ini juga dikenal dengan nama Tenganan Pegringsingan. Penasaran kan kenapa dikenal dengan sebutan itu? Alasannya adalah karena keunikan kerajinan kain tenunnya yang dinamakan kain Gringsing. Lalu apa keunikan kain ini dibanding kain lainnya? Jawabannya adalah karena teknik pembuatan kain tenun itu. Tekniknya dikerjakan dengan cara dobel ikat yang merupakan satu-satunya teknik yang masih digunakan di Indonesia. Tidak heran kenapa kain ini terkenal hingga mancanegara.

Kain Tenun Gringsing
Kain Tenun Gringsing

Selain keunikan kerajinan kain tenun Gringsing, daya tarik unik lainnya dari desa tradisional ini adalah tradisi Mekare-kare, atau lebih dikenal dengan Perang Pandan atau Mageret Pandan. Tradisi ini adalah ritual dimana sepasang pemuda desa saling menyayat memakai duri-duri daun pandan di atas panggung. Luka akibat sayatan itu bakal diobati dengan obat tradisional dari bahan umbi-umbian. Walau bakal terasa sangat perih, luka tersebut bakal mengering dan sembuh setelah beberapa hari. Tujuan dari tradisi ini adalah buat melatih fisik dan mental para warga desa. Tradisi Mekare-kare ini merupakan puncak upacara Usaba Sambah yang digelar selama 1 bulan dimana perang pandan diadakan bisa dua hingga empat kali di bulan Juli.

Perang Pandan Bali
Tradisi Perang Pandan Bali yang hanya bisa di temukan di desa Tenganan

Lokasi Desa Tenganan

Lokasi desa ada di Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem, Bali Timur. Atau sekitar 70 kilometer dari Bandara Internasional Ngurah Rai, bisa ditempuh sekitar satu jam empat puluh lima menit kalau kondisi jalan tidak macet.

Harga Tiket Masuk

Kamu tidak perlu membayar tiket masuk saat kunjungi desa tradisional satu ini. Namun kamu cukup membayar donasi saja tanpa ada patokan jumlah. Sifatnya sukarela, jadi terserah kamu memberikan berapa rupiah. Tentu saja kamu mesti pertimbangkan jumlah yang layak ya. Jangan mentang-mentang sukarela kamu berikan semena-mena. Selain fasilitas area parkir yang luas, tersedia juga banyak kios yang menjual berbagai oleh-oleh, makanan serta minuman lho.

Keunikan Desa Tenganan

Keunikan desa ini yang membedakannya dengan desa lainnya di Bali adalah tidak adanya penjor yang dipasang saat Hari Raya Galungan. Kenapa begitu? Karena Hari Raya Galungan bukanlah merupakan hari besar, namun Aci Sambah, yaitu saat digelarnya tradisi Perang Pandan. Selain itu warga desa ini juga tidak merayakan Hari Raya Nyepi. Mereka tetap beraktivitas seperti biasa namun membatasi diri tidak keluar desa buat menghormati warga Hindu Bali lainnya.

Fakta unik lainnya adalah warga desa memiliki kalender sendiri, yaitu sasih Sambah, dan sasih (bulan) dari tahun Isaka tersebut digolongkan ke 3 bagian tahun. Ketiga bagian itu adalah Tahun I Sambah Biasa yang terdiri dari 360 hari, Tahun II Sambah Biasa yang terdiri dari 352 hari dan Tahun III Sambah Muran yang terdiri dari 383 hari. Unik bukan? Jadi tidak ada salahnya kok mengunjungi Desa Tenganan kalau kamu wisata ke pulau Dewata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *