Sejarah Pura Besakih, Pura Terbesar di Bali

1 min read

Bali Trilogy – Siapa yang tidak tahu tempat wisata Pura Besakih di Bali? Dijamin hampir semua orang, terutama yang hobi traveling pasti sudah pernah mengunjunginya. Bagaimana dengan kamu? Kompleks pura di Bali ini dikenal juga dengan nama Pura Agung Besakih. Sesuai namanya, kamu bisa temukan pura ini di Desa Besakih Kabupaten Karangasem.

Kenapa disebut kompleks pura?

Karena terdiri dari 1 pusat pura, Pura Penataran Agung, yang dikelilingi 18 pura pendamping, diantaranya ada Pura Basukian, Pura Dalem Puri, Merajan Selonding, Gua Raja, Pura Manik Mas, Persimpangan, Merajan Kanginan, Ulun Kulkul, Banua, Batu Madeg, Bangun Sakti, Hyang Haluh, Pengubengan, Peninjoan, Pura Tirtha, Kiduling Kreteg, dan Pura Gelap yang merupakan pura di lokasi tertinggi dibanding lainnya. Banyak bukan?

Sebagai pura utama, Pura Penataran Agung memiliki 3 candi utama yang menyimbolkan stana dari sifat Tuhan, yaitu Tri Murti. Dimana Trimurti yang dimaksud adalah tertuju pada Dewa Wisnu, Dewa Brahma, dan Dewa Siwa sebagai perlambang Dewa Pemelihara, Dewa Pencipta dan Dewa Reinkarnasi..

Tidak heran bukan kalau Pura Besakih terdaftar di pengusulan Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1995? Selain sebagai tempat wisata, warga Hindu Bali juga melaksanakan kegiatan keagamaan di Pura Besakih, terutama di Pura Penataran Agung yang memiliki bangunan persembahyangan atau biasa disebut Pelinggih terbanyak.

Salah satu kegiatan keagamaan tersebut adalah Piodalan atau Pujawali yang biasanya diselenggarakan setahun sekali sekitar bulan April, yang merupakan Purnama Kedasa. Kegiatan keagamaan ini berlangsung hingga 3 minggu. Kegiatan keagamaan lainnya adalah upacara Panca Wali Krama yang digelar 10 tahun sekali dan Eka Dasa Rudra yang digelar setiap 100 tahun sekali.

Kamu bisa mengunjungi Pura Besakih setiap hari dari pukul 08.00 hingga 17.00 kalau mau menikmati indahnya berbagai pura yang ada. Namun kalau kamu mau sembahyang, pura tersebut dibuka 24 jam lho tanpa batasan waktu.

Sejarah Pura Besakih

Walau sudah pernah mengunjungi Pura Besakih, kamu sudah tahu belum sejarahnya dan siapa pendirinya? Nah, pendiri Pura Besakih adalah tokoh agama Hindu, yaitu Rsi Markandeya. Beliau walau berasal dari India namun sudah lama menetap di pulau Jawa. Menurut sejarah, saat itu pulau Jawa dan pulau Bali masih belum terpisah oleh selat Bali hingga disebut pulau Dawa yang mempunyai arti pulau panjang.

Sejarah Pura Besakih
Foto Sejarah Pura Besakih Pada Tahun 1930

Rsi Markandeya sedang bertapa di Gunung Hyang atau sekarang dikenal dengan nama Gunung Dieng saat beliau mendapatkan wahyu merambas hutan Pulau Dawa dari arah selatan hingga ke utara. Sembari merambas, Rsi Markandeya menanam kendi berisi air suci dan logam emas, perak, tembaga, perunggu, serta besi. Hingga sekarang kelima logam tersebut disebut mama Pancadatu oleh masyarakat Bali. Rsi Markandeya juga menanam permata, Mirahadi yang berarti mirah utama, di tempat beliau menanam kelima logam dan air suci itu.

Tempat dimana beliau menanam permata, kelima logam serta air suci itu pada akhirnya dikenal dengan nama Basuki yang mempunyai makna selamat. Pemberian nama itu bukan main-main lho, ada doa syukur dibalik pemberian nama itu. Doa syukur yang dipanjatkan karena para pengikut Rsi Markandeya semuanya selamat saat merambas hutan. Mengharukan bukan?

Lalu kenapa sekarang dikenal dengan nama Pura Besakih? Karena seiring waktu masyarakat mengubah sebutannya dari Basuki menjadi Besakih. Jadi tunggu apalagi? Segera rencanakan liburanmu selanjutnya dengan mengunjungi Pura Besakih di Bali. Dijamin kamu pasti merasakan kedamaian dan ketenangan pikiran sembari menyaksikan indahnya pemandangan alam beserta kumpulan pura di sana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *